Prose

Biru

Terduduk berlunjur kita di bawah pohon kelapa, sejarak satu langkah kaki —aku dan kamu. Memandangi langit, hamparan laut yang seiring dengan suara percikan ombak, serta merta menebak perasaanku —semua terasa senada; biru. Menikmati satu dua seruput jeruk hangat, sembari aku sedang mengisi kembali logika yang ku anggap selalu tabu.

“Baiknya kita sudahi saja, ya? Mari kita beri kesempatan untuk si ‘beda‘. Karenanya, aku belum memiliki seutuhnya perasaan yang telah lalu.”

“Maksudmu, kita? Dan yang telah lalu, cukupi saja begitu?” ujarku sekejap membisu.

“Iya, kita. Iya, cukupi saja dulu. Kita berharap pada Sang Maha Adil, tetapi aku yang tak mampu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s